DETERMINAN INTENSI AUDITOR MELAKUKAN TINDAKAN WHISTLE-BLOWING DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI VARIABEL MODERASI

M. Wahyuddin Abdullah, Hasma Hasma

Sari


Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor komitmen organisasi, personal cost of reporting, tingkat keseriusan kecurangan, dan sikap profesionalisme terhadap intensi auditor melakukan tindakan whistle-blowing dengan perlindungan hukum sebagai variabel moderasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang bekerja di lingkungan Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data primer yang dikumpulkan melalui survei kuesioner secara langsung. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis regresi linear berganda dengan uji nilai selisih mutlak untuk hipotesis komitmen organisasi, personal cost of reporting, tingkat keseriusan kecurangan, dan sikap profesionalisme yang dimoderasi oleh perlindungan hukum. Hasil penelitian dengan analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa tingkat keseriusan kecurangan dan sikap profesionalisme berpengaruh positif dan signifikan sedangkan komitmen organisasi dan personal cost of reporting berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap intensi auditor melakukan tindakan whistle-blowing. Analisis variabel moderating dengan pendekatan nilai selisih mutlak menunjukkan bahwa per- lindungan hukum hanya mampu memoderasi tingkat keseriusan kecurangan dan tidak mampu memoderasi komitmen organisasi, personal cost of reporting dan sikap profesionalisme terhadap intensi auditor melakukan tindakan whistle-blowing.


Kata Kunci


intensi whistle-blowing; komitmen organisasi; personal cost of reporting; tingkat keseriusan kecurangan; sikap profesionalisme, perlindungan hukum

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ahmad, S., S. G. Malcolm, dan I. Zubaidah. 2012. Internal Whistle-Blowing Intentions: A Study of Demographic and Individual Factors. Journal of Modern Accounting and Auditing 8(11): 1632-1645.

Ajzen, I. 1991. The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes 50(2): 179-211.

Allen, N. J. dan J. P. Mayer. 1990. The Measurement and Antecedents of Affective, Continuance and Normative Commitment to the Organization. Journal of Occupational and Organizational Psychology 63(1): 1-18.

Arens, A. A., R. J. Elder, dan M. S. Beasley. 2008. Auditing dan Jasa Assurance. Erlangga. Jakarta.

Bagustianto, R. dan Nurkholis. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk Melakukan Tindakan Whistle-Blowing (Studi Pada PNS BPK RI). Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan 19(2): 276-295.

Bame-Aldred, C., J. T. Sweeney, dan D. L. Seifert. 2007. An Examination of the Effectiveness of Sarbanes-Oxley WhistleBlower Protection. Journal of Forensic Accounting 8: 105–118.

Bouville, M. 2007. Whistle-Blowing and Morality. Journal of Business Ethics 81(3): 579–585.

Brief, A. P. dan S. J. Motowidlo. 1986. Prosocial Organizational Behaviors. Academy of Management Review 11(4): 710 – 725.

Christanti, D. 2008. Sikap ataukah Significant Others yang dapat Mempengaruhi Intensi Membuang Sampah Sesuai Jenisnya. Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa 2(2): 129-145.

Curtis, M. B. 2006. Are Audit related Ethical Decisions Dependent upon Mood? Journal of Business Ethics 68(2): 191-209.

Davis M. 1996. Some Paradoxes of Whistle-Blowing. Business and Professional Ethics Journal 15(1): 147-155.

Dempster, Q. 2006. Whistleblower Para Pengungkap Fakta. Elsam. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. PT Gramedia. Jakarta.

Dyck, A., M. Adair, dan Z. Luigi. 2010. Who Blows the Whistle on Corporate Fraud? Journal of Finance 65(6): 2213–2254.

Eddy, O. S. H. 2010. Tetap Dijatuhi Pidana Bilamana Terlibat dalam Kejahatan. Newsletter. Komisi Hukum Nasional (KHN) 10(6).

Hazzi, O. A. dan I. A. Maldoan. 2012. Prosocial Organizational Behaviors: The Lifeline of Organizations. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences 54: 1450-2275.

Indriantoro, N. dan B. Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertma. BPFE. Yogyakarta.

Johnson, R. A. 2003. Whistle-Blowing: When it Works and Why. Lynne Riener Publishers, Inc. Colorado.

Joneta, C. 2016. Pengaruh Komitmen Profesional dan Pertimbangan Etis terhadap Intensi Melakukan Whistle-Blowing: Locus of Control Sebagai Variabel Moderasi. JOM Fekon 3(1): 735-748.

Kalbers, L. P. dan T. J. Fogarty. 1995. Profesionalism and Its Consequences: A Study of Internal Auditors. A Journal of Practice and Theory 14(1): 64-86.

Kaplan, S. E. dan S. M. Whitecotton. 2001. An Examination of Auditors’ Reporting Intentions When another Auditor is Offered Client Employment. A Journal of Practice and Theory 20(1): 45-63.

Kaptein, M. 2011. From Inaction to External Whistleblowing: The Influence of the Ethical Culture of Organizations on Employee Responses to Observed Wrongdoing. Journal of Business Ethics 98(3): 513-530.

Karek, R. F. 2016. Perlindungan Hukum terhadap Pengungkap Fakta (Whistle blower) Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Lex Administratum IV(4): 29-37.

Khan, M. A. 2009. Auditors and Whistle-blowing Law. Accountant Today: 12- 22.

Kreshastuti, D. K. dan A. Prastiwi. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Auditor untuk Melakukan Tindakan Whistle-blowing. Diponegoro Journal of Accounting 3(2): 1-15.

Kuncoro, M. 2014. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonami Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis? Edisi Empat. Erlangga. Jakarta.

Kuryanto, A. D. 2012. Pengaruh Independensi Auditor, Komitmen Organisasi, Gaya Kepemimpinan, dan Pemaha- man Good Corporate Governance terhadap Kinerja Auditor Eksternal (Studi pada KAP di Indonesia). Tesis. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Malang.

Lekatompessy, J. E. 2013. Hubungan Profesionalisme dengan Konsekuensinya: Komitmen Organisasional, Kepuasan Kerja, Prestasi Kerja dan Keinginan Berpindah (Studi Empiris di Lingku- ngan Akuntan Publik). Jurnal Bisnis dan Akuntansi 5(1): 69-84.

Menk, K. B. 2011.The Impact of Materiality, Personality Traits, and Ethical Position on Whistle-Blowing Intentions. Disertasi. Program Doctor of Philosophy in Business, Virginia Commonwealth University. Virginia.

Merdikawati, R. dan P. Andry. 2012. Hubungan Komitmen Profesi dan Sosial Antisipatif Mahasiswa Akuntansi dengan Niat Whistle-Blowing. Diponegoro Journal of Accounting 1(1): 1-10.

Mesmer-Magnus, J. R. dan C. Viswesvaran. 2005. Whistleblowing in Organizations: An Examination of Correlates of Whistle-Blowing Intentions, Action, and Retalation. Journal of Business Ethics 62(3): 277-297.

Miceli, M. P. dan J. P. Near. 1985. Characteristics of Organizational Climate and Perceived Wrongdoing Associated with Whistle-Blowing Decisions. Personnel Psychology 38(3): 525-544.

Miceli, M. P., J. P. Near, dan C. R. Schwenk. 1991. Who Blows the Whistle and Why? Industrial & Labor Relation Review 45(1): 113-130.

Miceli, M. P., J. P. Near, dan T. M. Dworkin. 2009. A Word to the Wise: How Managers and Policy Makers can Encourage Employees to Report Wrongdoing. Jurnal of Business Ethics 86(3): 379-396.

Minson, J. A. dan B. Monin. 2011. Do Gooder Derogation: Disparaging Morally Motivated Minorities to Defuse Anticipated Reproach. Social Psychological and Personality Science 3(2): 200-207.

Mowday, R. T., R. M. Steers dan L. W. Porter. 1979. The Measurement of Organizational Commitment. Journal of Vocational Behavior 14(2): 224-247.

Mustapha, M. dan L. S. Siaw. 2012. Whistle Blowing: Perceptions of Future Accountants. International Conference on Economics Business Inovation 38: 135- 139.

Park, H. dan J. Blenkinsopp. 2009. Whistle-Blowing as Planned Behaviour–A Survey of South Korean Police Officer. Journal of Business Ethics 85(4): 545-556.

Parmerlee, M. A., J. P. Near, dan T. C. Jensen. 1982. Correlates of Whistleblowers’ Perceptions of Organizational Retalia- tion. Administrative Science Quarterly, 27(1): 17-34.

Patel, C. 2003. Some Cross-Cultural Evidence on Whistle-Blowing as an Internal Control Mechanism. Journal of Inter- national Accounting Research 2(1): 69-96.

Peraturan bersama Kemenkumham, Jaksa Agung, Polri, KPK, dan LPSK No. 4 Tahun 2011 Tentang perlindungan bagi saksi pelapor, pelapor, dan pelaku yang bekerjasama.

Roa, F. C. 2007. Business Ethis and Social Responsibility. First Edition. Philippine Copyright. Manila.

Rothschild, J. dan T. D. Miethe. 1999. Whistle-Blower Disclosures and Mana- gement Retaliation. Work and Occu- pations 26(1): 107–128.

Sabang, M. I. 2013. Kecurangan, Status Pelaku Kecurangan, Interaksi Individu-Kelompok, dan Minat menjadi Whistle-blower (Eksperimen pada Auditor Internal Pemerintah. Tesis. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Malang.

Sari, D. N. dan H. Laksito. 2014. Profesionalisme Internal Auditor dan Intensi Melakukan Whistleblowing. Diponegoro Journal of Accounting 03(03): 2337-3806.

Schultz-Jr, J. J., D. A. Johnson, D. Morris, dan S. Dyrnes. 1993. An Investigation of The Reporting of Questionable Acts in an Inter Setting. Journal of Accounting Research 31: 75-103.

Septianti, W. 2013. Pengaruh Faktor Organisasional, Individual, Situasional, dan Demografis terhadap Niat Melakukan WhistleBlowing Internal. Prosiding. Simposium Nasional Akuntansi XVI, Manado.

Siahaan, B. 2015. Kajian Yudiris Tentang Saksi Pengungkap Fakta (Whistle- Blower). Lex Crimen IV(1): 178-187.

Somers, M. J. dan J. C. Casal. 1994. Organizational Commitment and Whistle-blowing: A Test of The Reformer and The Organizational Man Hypotheses. Group & Organization Management 93(3): 270-284.

Sugara, Y. 2013. Profesionalisme Internal Auditor dan Intensi Melakukan Whistleblowing. Jurnal Liquidity 2(1): 34-44.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta. Bandung.

Sukirno, R. S. H. dan H. Sutarmanto. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Membeli Produk Wayang Kulit pada Masyarakat Suku Jawa. Psikologika 24: 119-131.

Sulistomo, A. dan A. Prastiwi. 2012. Persepsi Mahasiswa Akuntansi terhadap Pengungkapan Kecurangan (Studi Empiris Mahasiswa Akuntansi UNDIP dan UGM). Eprints Undip: 1-28.

Surat Edaran Mahkamah Agung No. 04 Tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborators) di Dalam Tindak Pidana Tertentu.

Sweeney, P. 2008. Hotlines Helpful for Blowing the Whistle. Financial Executive 24(4): 28-31.

Tatawi, M. L. 2015. Perlindungan Hukum Terhadap Saksi dan Korban (Kajian Undang-Undang No. 31 Tahun 2014). Let Ex Societatis III(7): 41-49.

Taylor, E. Z. dan M. B. Curtis. 2010. An Examnation of the Layers of Workplace Influences in Ethical Judgments: Whistleblowing Likelihood and Per severance in Public Accounting. Journal of Business Ethics 93(1): 21-37.

Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Undang-Undang RI No.20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Undang-Undang RI No.31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Winardi, R. D. 2013. The Influence of Individual and Situational Factors on Lower-Level Civil Servants’ Whistle-Blowing Intention in Indonesia. Journal of Indonesian Economy and Business 28(3): 361-376.




DOI: http://dx.doi.org/10.24034/j25485024.y2017.v1.i3.2096

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.